sariasih.id - Amandel, atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai tonsil, merupakan sepasang jaringan kelenjar getah bening yang terletak di sisi kiri dan kanan bagian belakang tenggorokan manusia. Pada dasarnya, jaringan ini memegang peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh, khususnya pada masa kanak-kanak, karena berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama yang menyaring kuman, bakteri, dan virus yang masuk melalui mulut atau hidung.
Namun seiring berjalannya waktu, ketika paparan mikroorganisme patogen terjadi secara masif atau kondisi imunitas tubuh sedang menurun, amandel yang semula berfungsi sebagai pelindung justru dapat berubah menjadi sarang infeksi.
Kenapa Amandel Berubah Menjadi Sumber Infeksi (Tonsilitis)
Kondisi di mana jaringan amandel mengalami infeksi dan peradangan akut inilah yang dikenal sebagai radang amandel atau tonsilitis. Menurut Dokter Spesialis THT RS Sari Asih Ciledug dr. Mediana Dewi Estanty, Sp.THT, radang amandel tidak hanya menyerang anak-anak, melainkan cukup sering dijumpai pada orang dewasa akibat paparan polusi, asap rokok, faktor alergi kronis, hingga masalah asam lambung (GERD) yang terus-menerus mengiritasi area tenggorokan.
Gejala Radang Amandel yang Harus Diwaspadai
Ketika amandel mengalami peradangan, beberapa gejala klinis yang umumnya dirasakan meliputi:
- Rasa sakit atau perih yang hebat di tenggorokan, terutama saat menelan makanan atau cairan.
- Amandel terlihat membengkak, berwarna merah pekat, dan terkadang disertai bercak putih atau kekuningan (eksudat).
- Demam tinggi mendadak disertai tubuh menggigil.
- Aroma napas menjadi tidak sedap (bau mulut/halitosis) akibat penumpukan sisa bakteri.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar leher yang terasa nyeri saat ditekan.
Langkah Pencegahan dan Pengobatan
Untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi berulang pada jaringan amandel, tindakan pencegahan yang berfokus pada gaya hidup sehat sangatlah disarankan.
- Menjaga Higienitas Mulut dan Tangan: Rajin mencuci tangan sebelum makan serta menyikat gigi secara teratur demi meminimalkan masuknya kuman ke area tenggorokan.
- Menghindari Zat Iritan: Menjauhi paparan asap rokok, polusi udara, serta membatasi konsumsi makanan yang terlalu berminyak, pedas, atau es yang dapat mengiritasi dinding tenggorokan.
- Hidrasi yang Cukup: Mengonsumsi air putih dalam jumlah ideal guna menjaga kelembapan mukosa tenggorokan.
Kapan Harus Operasi?
Pada tahap awal atau radang akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri, penanganan medis umumnya melibatkan pemberian antibiotik yang sesuai resep dokter, obat pereda nyeri, serta antiinflamasi.
Namun, jika radang amandel berubah menjadi kronis, terjadi lebih dari 5-7 kali dalam setahun, atau ukurannya membesar secara ekstrem hingga memicu gangguan napas berat (Sleep Apnea / mendengkur parah saat tidur) dan menyulitkan proses menelan, maka tindakan pembedahan pengangkatan amandel (Tonsilektomi) menjadi solusi medis terbaik yang direkomendasikan.
Kenapa Terjadi Perdarahan Setelah Operasi Amandel?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh pasien dewasa terkait tindakan tonsilektomi adalah risiko timbulnya perdarahan pasca-operasi. dr. Mediana Dewi Estanty, Sp.THT, menjelaskan bahwa secara medis, perdarahan pasca-operasi amandel terbagi menjadi dua fase utama, yaitu perdarahan primer (terjadi dalam 24 jam pertama) dan perdarahan sekunder (terjadi antara hari ke-5 hingga ke-10 setelah operasi).
Beberapa faktor medis yang mendasari perdarahan tersebut dapat terjadi ialah:
1. Proses Pelepasan Kerak Luka (Slough Separation)
Setelah amandel diangkat, area bekas operasi tidak dijahit seperti luka kulit luar biasa, melainkan dibiarkan pulih secara alami. Di atas luka tersebut akan terbentuk lapisan pelindung berwarna keputihan atau keabuan yang disebut slough (kerak luka). Pada hari ke-5 hingga ke-10 pasca-operasi, kerak ini secara alami akan mulai mengelupas. Jika proses pengelupasan terjadi terlalu cepat atau dipicu oleh gesekan makanan, pembuluh darah kecil di bawahnya bisa terbuka dan memicu perdarahan sekunder.
2. Konsumsi Makanan Bertekstur Keras
Pasien yang baru saja menjalani operasi amandel sangat diwajibkan untuk mengonsumsi makanan bertekstur lunak, dingin, dan halus (seperti bubur saring, es krim, atau puding). Memaksakan diri mengonsumsi makanan padat, renyah, keras, atau panas terlalu dini dapat menggores area luka operasi yang masih sangat rapuh dan memicu robeknya pembuluh darah.
3. Dehidrasi dan Tenggorokan Kering
Rasa nyeri pasca-operasi sering kali membuat pasien enggan untuk minum atau menelan. Padahal, kondisi tenggorokan yang kering akan membuat jaringan luka menjadi kaku dan sangat rentan pecah atau berdarah. Menjaga asupan cairan dingin tetap masuk secara konstan sangat penting untuk menjaga elastisitas jaringan di area bekas operasi.
4. Tekanan Tinggi akibat Batuk, Mengejan, atau Aktivitas Berat
Aktivitas fisik yang terlalu berat, batuk yang dipaksakan, berdeham terlalu keras, ataupun mengejan dapat meningkatkan tekanan darah di area kepala dan leher secara mendadak. Peningkatan tekanan vaskular ini dapat dengan mudah menjebol sumbatan pembuluh darah yang sedang dalam proses penyembuhan.
Ditegaskan dr. Mediana Dewi Estanty, Sp.THT, radang amandel tidak boleh disepelekan, terutama jika gejalanya sudah mulai mengganggu kualitas tidur dan aktivitas harian Anda.
“Jika tindakan operasi amandel diperlukan, pasien tidak perlu panik secara berlebihan mengenai risiko perdarahan, asalkan selalu mematuhi instruksi pasca-operasi dan membatasi aktivitas fisik sesuai anjuran,” sebutnya.
Bagi Anda atau keluarga yang mengalami keluhan sakit tenggorokan berulang atau pembengkakan di area amandel, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan komprehensif di Poliklinik THT RS Sari Asih Ciedug bersama dr. Mediana Dewi Estanty, Sp.THT untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat dan aman.

